Wednesday, April 20, 2011

SAMPLING AUDIT UNTUK TES PENGAWASAN DAN TES SUBSTANTIF UNTUK TRANSAKSI

1. Tujuan memilih sampel dari suatu populasi adalah untuk mendapatkan sampel yang representatif, yaitu sampel yang memiliki karakteristik yang sama dengan populasinya. Meningkatkan kemungkinan suatu sampel menjadi representatif melalui kecermatan dalam merancang, menyeleksi, dan mengevaluasinya.

2. Hasil sampling dapat menjadi tidak representatif apabila terjadi kekeliruan uji petik/sampling error dan atau kekeliruan non uji petik/non sampling error. Resiko terjadinya kedua hal tersebut merupakan resiko sistematis yang dapat dikendalikan.

  1. Resiko non uji petik terjadi apabila pengujian audit tidak mengungkapkan adanya pengecualian di dalam sampel, disebabkan auditor mengalami kegagalan untuk mengetahui adanya pengecualian, dan prosedur audit yang tidak efektif atau tidak memadai
  2. Resiko uji petik bagian yang melekat pada uji petik yang disebabkan pengujian yang lebih kecil dari keseluruhan populasi, dapat dikurangi dengan meningkatkan ukuran sampel atau menggunakan metode seleksi pos atau unsur sampel dari populasi yang memadai

3. Uji petik statistik dan non statistik

Metode uji petik meliputi :

  1. Perencanaan sampel : untuk menjamin diperolehnya resiko uji petik yang diinginkan
  2. Seleksi sampel : Keputusan memilih unsur sampel dari populasi
  3. Pelaksanaan pengujian : Pemeriksaan dokumen dan melakukan pengujian audit lainnya
  4. Evaluasi hasil : Penarikan kesimpulan berdasarkan hasil pengujian audit

Perbedaan kedua metode :

Metode Statistik

Metode Non Statistik

à Penggunaan teknik-teknik pengukuran matematis untuk menghitung hasil statistik formal

à Terdapat kuantifikasi risiko uji petik pada perencanaan sampel dan evaluasi hasil

à Biasanya melalui metode pemilihan sampel probabilistik yaitu:

à acak-sederhana/simpel random

à sistematis/systematic

à probabilitas-proporsional dg ukuran

à stratifikasi/stratified

à Tidak menggunakan teknik pengukuran matematis, tapi memilih unsur-unsur sampel yang diyakini .

à Kesimpulan mengenai populasi diambil lebih lewat pertimbangan/judgemental sampling

à Metode pemilihan sampel dengan non probabilistik, yaitu:

à sampel terarah/direct sample

à blok/block

à sembarang/haphazard






4. Metode seleksi sampel non probabilistis:

Kandungan informasi sampel dalam metode ini, termasuk representatif/tidaknya sampel, akan didasari pengetahuan dan keterampilan auditor dalam menerapkan pertimbangan profesional saat itu. Terdiri dari:

  1. Seleksi sampel terarah, berdasarkan pertimbangan profesional auditor yang meliputi unsur yang paling mungkin mengandung salah saji, unsur yang mengandung karakteristik populasi yang terpilih, jumlah rupiah yang besar.
  2. Uji petik blok , dapat diterima hanya jika digunakan jumlah blok yang cukup
  3. Uji petik sembarang, mengamati suatu populasi dan memilih unsur yang menjadi sampel tanpa memperhatikan ukuran, sumber, atau karakteristik lain yang membedakan tanpa memihak. Kelemahannya adalah kesulitan auditor untuk sama sekali tidak memihak dalam memilih unsur yang menjadi sampel

5. Metode seleksi sampel probabilistis

Hal yang harus diperhatikan dalam menentukan sampel probabilitas adalah:

a. Penerapan “population of interest” Populasi harus ditetapkan konsisten dengan tujuan audit dan uji petik yang mendasari sampel yang diambil

b. Unit uji petik harus ditetapkan

Metode ini terdiri dari:

a. Seleksi sampel acak sederhana, setiap kombinasi yang mungkin dari unsur-unsur dalam suatu populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Dapat digunakan tabel angka acak untuk mendukung proses seleksi.

b. Seleksi sampel sistematis, menghitung suatu interval dan kemudian memilih unsur sampel secara metodis berdasarkan besarnya interval.

c. Seleksi probabilitas yang proporsional dengan ukuran dan seleksi sampel stratifikasi.

6. Uji petik Atribut merupakan metode statistik yang digunakan untuk mengestimasi proporsi unsur-unsur dalam satu populasi yang mengandung karakteristik atau atribut yang menjadi fokus kepentingan. Proporsi ini merupakan tingkat keterjadian/occurance rate, merupakan rasio dari unsur yang mengandung atribut khusus terhadap jumlah unsur populasi.

7. Biasanya tingkat keterjadian yang diperhatikan auditor/jenis tingkat pengecualian dalam populasi data akuntansi, yaitu:

a. Deviasi terhadap prosedur pengendalian yang dibuat klien

b. Kekeliruan atau penyimpangan moneter dalam populasi data transaksi, dan

c. Kekeliruan/penyimpangan moneter dalam rincian saldo akun.

8. Tingkat keterjadian atau pengecualian dalam uji petik acak atau sistematis adalah merupakan ukuran yang tidak bias dari tingkat pengecualian dalam keseluruhan populasi.

9. Dalam menggunakan uji petik atribut dalam auditing, auditor harus mengetahui tingkat deviasi yang paling mungkin. Dengan demikian auditor mengarahkan pada upper limit teratas dari estimasi interval. Batas atas ini disebut CUER (Computed upper exception rate) dan didefinisikan sebagai tingkat deviasi tertinggi yang dihitung dalam pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi.

10.Distribusi Uji Petik merupakan suatu frekuensi distribusi dari hasil-hasil atas seluruh sampel yang mungkin dari suatu ukuran tertentu yang dapat diperoleh dari populasi yang berisi beberapa parameter spesifik. Estimasi atribut didasarkan pada distribusi binomial.

11. Metode penerapan uji petik atribut dalam audit terbagi dalam 3 kelompok yaitu :

a. Perencanaan Sampel

1) Nyatakan tujuan dari pengujian audit

2) Definisikan atribut dan kondisi deviasi. Atribut dari kepentingan dan kondisi deviasi berasal langsung dari program audit.

3) Definisikan populasi, mengambil sampel secara acak dari keseluruhan populasi dan menggenerelalisasi hasilnya untuk seluruh populasi

4) Definiskan unit uji petik.

5) Tentukan pengandalan berlebih yang dapat diterima.

6) Tentukan tingkat deviasi yang dapat ditoleransi.

7) Estimasikan tingkat deviasi populasi yang diharapkan.

8) Tentukan ukuran sampel awal. Ukuran sampel dipengaruhi oleh empat faktor yaitu:ukuran populasi, tingkat deviasi yang dapat ditoleransi, resiko pengandalan berlebih pada pengendalian intern yang dapat diterima, dan tingkat deviasi populasi yang diharapkan.

  1. Pemilihan Sampel dan Pelaksanaan Pengujian

1) Pilih sampel, unsur-unsur tertentu dalam populasi yang akan diikutkan sebagai sampel

2) Laksanakan prosedur audit, memeriksa setiap unsur di dalam sampel untuk mendapatkan catatan deviasi yang ditemukan.

  1. Evaluasi Hasil

1) Generalisasikan hasil dari sampel untuk populasi.

2) Analisa deviasi

3) Putuskan akseptabilitas dari populasi tersebut

No comments:

Post a Comment

Post a Comment